Sang
menteri kian menyilaukan sinarnya. Dibubuhi dengan rintik-rintik air yang
menyentuh kalbu. Hidupmu yang mulia apabila kau menempuh kemuliaan itu, seakan
ciri dan tanda bagi setiap insan yang merasakan nya. Kau yang menjadi penyangga
masyarakat kecil ini seakan tak mengenal lelah, letih, dan lesu. Bagitulah
engkau teramat mulia.
Pantaslah
engkau menjadi salah satu teknik perbaktian dalam keluarga yang perlu
diperhatikan, yang membuat namamu menjadi sang juara. 1,2,dan3 engkau rebut semua
juara. Sedangkan pasanganmu tetaplah peringkat harapan. Yang jauh dari
kemulianmu. Tapi perbaktian tetaplah perbaktian. Keduanya adalah suatu ganjaran
yang besar apabila kita menginginkannya.
Hidupmu
seakan pertanda kehidupan alam ini. Cukup mereka yang selalu memperlakukanmu
layaknya pembantu, sangat tidak memperhatikan akibat perbuatan mereka tersebut.
Bahkan balasan nya lebih dari apa yang mereka perbuat.
Ku hanya
berharap untuk selalu berbakti denganmu. Aku hanya ingin engaku abahgia disana.
Karena apalah artinya kehidupan yang sementara ini disbanding dengan kehidupan
yang tiada tara kekal abadi. Salam hangat untuk wahai BUNDA !!!

0 komentar:
Posting Komentar