Jumat, 23 Mei 2014

Langkah yang kulupakan






                Sungguh tak menyangka bahwa dia akan datang dengan sendirinya lagi, seandainya kamu tahu bahwa itu hanyalah fatamorgana. Tetapi sejak itu dia akan senantiasa mengikutimu. Bukan sang pujaan hati yang terus merindukanmu dan bukan bidadari yang turun tepat dihatimu, melainkan sang semut hitamlah yang berjalan di atas batu hitam saat malam yang kelam.

                Putaran itu mengingatkan ku tentang dia, ya dia. Dia yang terus mengantarkanku ke tempat yang sebagian besar terjadi reaksi. Lalu apakah salah hati ini bila sudah terpaut padanya kemudian diam dan terpaku. Bagaimana jika telah pergi salahkah bila aku bernostalgia dengannya ? Cukup, jangan menghalangiku sesungguhnya chemistry ini telah tumbuh . Percayalah bahwa ini tidak terjadi begitu saja, ini karenamu bukan karenaku. Jadi jangan kau ungkit kembali peristiwa itu.

                Melalui untaian kata-kata ini akan kusampaikan padamu,hal ikhwalnya. Mereka menyebutnya dengan citeureup ntah karena pahlawan yang berlumuran merah pekat atau adat moyang yang terus berakar kuat didalamnya. Hanya inilah sang fatamorgana itu terbit. Capung yang teramat besar itu menjadi bukti akan indahnya jalan yang penuh endapan hingga jenuh ditelan masa.

                Tibalah pada enantiomer, bukan bayang-bayang yang diterima tapi dialah yang terus bercermin. Tak terbayangkan jika di bumi alloh ini tiada cermin. Ntah akan ada atau tiada. Inilah aku. Bagaimana denganmu ???

Read More ->>

Panggung Politik






                Desiran ombak yang sedang menunggu akan datangnya sang putih itu pun bergumam. ‘Hal apa yang menurutmu paling menyebalkan ?’ ucap kerang yang tak berdosa itu. Bukan itu yang kucari melainkan dia yang layak. Andaikan elemen pasir itu mendengar tentu dia akan mengingat history dulu. Semua menghindar akan yang dipikulnya nanti. Begitu mudah mengurai janji yang nyatanya sebatas buih di lautan. Banyak harapan defisit fakta. Kecewa memang, menyesal tentu, lelah betul tapi bagaimana lagi. Goresan hitam itu menjadi benteng terkuat yang tak terelakkan.
                Apakah rela suara pasir putih dan hitam dicampur? Bukankah lembaran yang diperebutkan itu saksinya ? Lalu siapa terdakwa? Lingkarang besi dan jeruji menjerit seakan hendak mengganti filsafat mereka. Cukup ini rahasia antara aku denganmu. Cctv ini melihat dan bergerak memilih apa yang dipantaunya.
                Bukan pula si riya yang menyertai, tidak akad yang kubutuhkan, mengapa pula tidak dia ??? Rayuanmu tak membuatku bergeming, seakan itu menjadi CaCO3 yang terus menguat mengakar dan membuat lapisan baru di bumi ini. Biarlah aku safar tiada aku tiada mengapa. Hanya ini untukmu. Sebotol surat yang berisi lembar tergoreskan penyesalan yang dalam untukmu.

Read More ->>

Untukmu bumi pertiwiku






      Bahasa Indonesia, ya Bahasa Indonesia. Bahasa itu memang cukup populer di telinga kita namun itu tidak cukup populer ketika digunakan dalam kehidupan sehari-hari.MENGAPA ? karena sebagian masyarakat memang menganggap bahwa bahasa indonesia itu hanyalah pelajaran sekolah yang prakteknya hanya di ruang lingkup yang formal saja.

      Inilah kekeliruan yang nyata dan perlu kita hadapi dengan pikiran yang dingin. Jika kita mengaku berbangsa dan bernegara indonesia lalu di sisi lain kita tidak mengimplementasikan apa-apa yang terkandung di dalam bahasa indonesia itu sendiri. lantas kita berbangsa apa ? apakah ini hanya sebatas retorika saja, apakah ini hanya gurauan atau lelucon?. Sebatas karena pengaruh global yang menuntut kita untuk terus beradaptasi lalu kemudian melupakan JAS MERAH.

      Padahal di luar sana banyak orang yang mempelajari bangsa indonesia dalam hal bahasa, budaya, ekonomi, dan kebiasaan perilaku indonesia yang tak jauh tujuan mereka untuk merebut bahkan mengekspolitasi indonesia secara utuhnya.

      Ini tugas besar kita semua agar kita tergerak langkah kakinya untuk bangga dan mengamalkan bahasa indonesia itu sendiri. Cukup 1 pulau yg hilang, cukup 1 tambang emas di timur sana, cukup 1 budaya reog menjadi bukti akan lemahnya kita rakyat indonesia dalam menjaga identitas jati diri kita. Hayo semua kita rubah filsafat kita, pemikiran dan paham yang selama ini terus menggerogoti bahasa indonesia yang murni ini. Perlahan tapi pasti, dan yakin diseberang sana ada cahaya kemenangan yang sejati.

BRAVO BUMI PERTIWIKU !!!
Read More ->>

Perputaran Dimensi Waktu







               Percaya atau tidak, jika kita hidup itu pasti berakhir dengan kematian. Itu merupakan sunnatulloh yang tidak bisa berubah. Oleh karena itu dapat diberi kesimpulan bahwa manusia diciptakan tidak begitu saja atau sia-sia tanpa ada tujuan dan visi misi yang jelas.

               Namun kita bisa perhatikan terlebih dahulu. Kita berawal dari rahim ibu kita kemudian menjadi bayi kemudian meranjak menjadi anak-anak setelah itu remaja,dewasa, dan tua ditutup dengan kematian. Dengan mudahnya kita beranggapan bahwa hanya usia tualah kita akan dipanggil oleh sang pencipta padahal banyak sekali kasus-kasus yang menunjukkan kapan pun usia kita kematian itu tetap akan mendatangi kita mau siap atau tidak.

               Begitulah kematian ibarat tamu tak diundang yang bisa datang kapan pun dan itu pun kehendak sang pencipta untuk mengutusnya kepada siapa yang ia kehendaki untuk dipanggil tak memandang usia, jabatan, dan waktu. Berbicara tentang siklus kehidupan memang tak terlepas dari telur menetas yang muncul menggantikan dan ada yang tiada meninggalkan kehidupan ini. Begitulah Hukum Alam (tapi sebenarnya Alam itu tidak punya Hukum hehe) terus berputar ada yang di bawah dan di atas. Tetapi dilihat dari kenyataan bahwa tak selamanya siklus ini berlangsung tetapi hanya mewakili secara global, seandainya akan terus berlangsung maka ini akan menghasilkan suatu kehidupan yang biasa saja. Mudah di tebak dan mudah ditentukan. "life is never flat"

               Bukan siklus bila tidak ada makna dibalik semua itu, siklus kehidupan terutama dalam hal ini. Siklus yang merupakan perjalanan hidup manusia untuk apa mereka hidup dan untuk apa mereka diciptakan. Mudah saja pertama pelajari semua ilmu yang kalian dapat dari eksak atau sosial lalu hubungkan hal tersebut ke sang pencipta. Tentu mudah.

SILAHKAN ANDA MENCOBA !!!
Read More ->>

Pages

About Me

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.