Desiran ombak yang sedang menunggu akan
datangnya sang putih itu pun bergumam. ‘Hal apa yang menurutmu paling
menyebalkan ?’ ucap kerang yang tak berdosa itu. Bukan itu yang kucari
melainkan dia yang layak. Andaikan elemen pasir itu mendengar tentu dia akan
mengingat history dulu.
Semua menghindar akan yang dipikulnya nanti. Begitu mudah mengurai janji yang
nyatanya sebatas buih di lautan. Banyak harapan defisit fakta. Kecewa
memang, menyesal tentu, lelah betul tapi bagaimana lagi. Goresan hitam itu
menjadi benteng terkuat yang tak terelakkan.
Apakah rela suara pasir putih dan hitam
dicampur? Bukankah lembaran yang diperebutkan itu saksinya ? Lalu siapa
terdakwa? Lingkarang besi dan jeruji menjerit seakan hendak mengganti filsafat
mereka. Cukup ini rahasia antara aku
denganmu. Cctv ini melihat dan bergerak memilih apa yang dipantaunya.
Bukan pula si riya yang menyertai, tidak akad
yang kubutuhkan, mengapa pula tidak dia ??? Rayuanmu tak membuatku bergeming,
seakan itu menjadi CaCO3 yang terus menguat mengakar dan membuat lapisan baru
di bumi ini. Biarlah aku safar tiada aku tiada mengapa. Hanya ini untukmu.
Sebotol surat yang berisi lembar tergoreskan penyesalan yang dalam untukmu.

0 komentar:
Posting Komentar